Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia

Sumbangsih Peradaban Islam2Judul : Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia
Penulis : Prof Dr Raghib As-Sirjani
Penerbit : Pustaka Al-Kautsar
No ISBN : 978-979-555-2
Isi: 880 halaman + HC

Apa yang terlintas dalam benak kita saat mendengar kata peradaban Barat? Kebanyakan akan tergambar tentang kemegahan arsitektur, penemuan-penemuan, kemajuan ilmu pengetahuan tekonologi, budaya sosial masyarakat yang beradab, dan lintasan-lintasan positif lainnya. Namun apa kiranya yang akan terlintas dalam benak kita saat kita mendengar kata peradaban Islam? Apakah sebaliknya?

Bila kita bisa menggunakan mesin waktu, lalu menuju kurun pertengahan, abad ke-7 hingga sekitar abad 11 masehi dan kita menyusuri kota-kota di dunia, maka kita akan tercengang menyaksikan sebuah kutub peradaban yang teramat berbeda. Kita akan menemukan satu peradaban dimana negerinya tandus, terisolir, kumuh, dan liar. Rumah-rumah dibangun dengan batu kasar tanpa dipahat atau dihaluskan tanpa jendela, berpintu sempit tak terkunci. Tempat tinggal manusia tidak lebih baik dan lebih aman dari milik peliharaan mereka. Wabah penyakit berjangkit menimpa binatang ternak dan juga menimpa manusia karena kotoran dan sampah dibuang di depan rumah. Jalan-jalan tanpa kanal air, tidak ada batu pengeras, sistem pertanian yang terbelakang, masih dipenuhi hutan belantara dan rawa-rawa pinggir kota menyebarkan bau tidak enak. Dan masih banyak keterbelakangan dalam peradaban tersebut.

Di sisi lainnya, sebuah peradaban yang kondisinya kontras sekali. Kota Cordoba, malam hari diterangi lampu-lampu sepanjang sepuluh mil tanpa henti, lorong-lorongnya dilapisi batu ubin mengkilat, dikelilingi taman hijau dan kebun-kebun yang menjadi sarana hiburan masyarakat. Kota Granada, kita akan menemukan kegungan istana AlHamra yang didirikan di atas bukit yang menghadap kota yang dikelilingi hamparan padang subur. Kota Sevilla, terdapat 6000 mesin tenun sutra, dan dikelilingi pohon zaitun ditambah 100.000 tempat pemerasan buah zaitun. Kota kota di Spanyol memiliki khas nya masing-masing, pabrik perlengkapan baja, sehingga masyarakat Eropa berbondong mendatanginya. Kota Baghdad, dengan kemajuan ilmu dan penelitiannya, menyebabkan orang Eropa berdatangan menuntut ilmu, sungai Tigris dengan 30.000 jembatan, masjid-masjid mencapai 300.000 buah. Dan banyak lagi kemajuan-kemajuan peradaban ini yang menjadikannya memimpin peradaban dan memberikan sumbangsih yang nyata pada dunia. Namun kejayaan peradaban tersebut sedang redup saat ini.

Adalah Prof. Dr. Raghib As-Sirjani, seorang pakar sejarah, hafidz, juga seorang dokter, yang berusaha mengungkapkan kembali kejayaan Islam tersebut. Karya ini terasa istimewa karea dipaparkan dengan ilmiah, realistis, dan dipenuhi data sumber argumentasi yang kuat. Dalam karya setebal 800 halaman lebih ini, akan tersaji perbedaan Peradaban Islam dengan peradaban lainnya saat itu, peran peradaban dalam semua sisi keluarga dan masyarakat, asas-asas keilmuan, peran dalam ilmu sains, penemuan-penemuan, peran aqidah dan pemikiran, peran dalam sastra, peran kelembagaan dan pemerintahan, panorama keindahan dalam seni, arsitektur, lingkungan, penampilan manusia, akhlaq perilaku, dan pengaruh terhadap peradaban Eropa.

Prof Dr Raghib AsSirjani menulis buku ini sebagai persembahan untuk peradaban Islam. Ia meyakini bahwa melalui karya ini, akan mengembalikan kembali kepercayaan dan kebanggan serta motivasi ummat Islam. Karya yang mendapat penghargaan internasional ini rencananya akan diterbitkan jilid keduanya di waktu selanjutnya.

Karya ini menjadi suatu kebutuhan untuk disimak dan direnungi oleh kita semua. Bahwa sejarah membuktikan kejayaan ummat Islam, sehingga kita meyakini akan kebangkitan kembali dan berusaha keras dalam hal ini. Bahwa menjadi muslim bukanlah sebuah malu, justru kebanggaaan dan keyakinan yang menyeluruh. Selamat membaca!

ATEIS

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Di suatu pagi seorang gila berlari ke pasar lalu berteriak: “Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!”. Orang lalu berkerumun menontonnya. “Memangnya, Tuhan pergi ke mana, Dia lari atau pindah rumah?”, Tanya seorang penonton di pasar itu sinis. Orang gila itu menatap tajam semua orang yang monontonnya di pasar itu lalu bertanya “Coba (terka) kemana Tuhan pergi?” Tak ada jawaban. Orang gila itu menjawab sendiri “Aku mau mengatakan kepada kalian. Kita telah membunuhnya. Ya kita semua telah membunuhnya!”

Kisah di atas hanyalah metaforika Nietszche (1844-1900), filosof proklamator kematian Tuhan di Barat. Metafora ini tentu menjengkelkan. Jangankan membunuh Tuhan, membunuh makhluk saja dianggap jahat. Tapi Nietszche juga jengkel pada sesuatu yang disebut Tuhan. Tuhan baginya hanya ada dalam pikiran. Tuhan tidak wujud diluar sana. Ia memang ateis tulen. Lho, kalau begitu Tuhan yang mana yang ia bunuh? Sebentar!
Ateisme ala Nietszche bukan tanpa preseden. Orang Barat nampaknya sudah lama gerah dengan agama. “Siapapun yang beragama pasti tidak bebas”, kata Nietszche.

Agama dianggap mengebiri kebebasan. Dulu menjadi sekuler pun susah, apalagi ateis. Sedikit-sedikit dituduh ateis. Ateis bahkan hampir seperti plesetan dan penghinaan. “Kamu ateis!” sama maksudnya dengan “Kamu anarkis! Kamu komunis!” Ateis malah bisa berarti sifat orang tidak saleh. Munafik, pendosa yang merasa suci, berani dan bangga, bagi John Wingfield adalah ateis. Bagi dramawan Inggris, Thomas Nashe (1567-1601), ambisius, tamak, rakus, sombong dan pezina termasuk ateis. Lebih menggelikan lagi standar Penyair William Vaughan (1577-1641), tandanya ateis yang nyata adalah menaikkan sewa rumah. Pendek kata semua yang buruk adalah ateis.

Ateis yang agak akademis adalah yang kritis pada teologi Kristen dan institusi gereja. Giordano Bruno (1548-1600), tokoh rasionalis Italia, Pierre Carvin, Pendeta Robinson, pengarang Honest to God, Paul Tillich, pengarang Systematic Theology, Schleirmacher (1768-1834) tokoh hermeneutika adalah pengkritik teologi Kristen dan dianggap ateis. Ateis yang lebih canggih adalah yang berani menggugat Tuhan. Ingkar saja tidak cukup jadi hero. Ingkar harus dibumbui caci-maki, jadilah blasphemy. ”Tuhan Yahudi dan Kristen adalah tiran” kata Hegel (1770-1831) dan Kant (1724-1804), karena minta ketaatan penuh.

Schoopenhuer (1788-1860) mendahului Nietszche menegaskan tuhan tidak ada. Sesudah Nietszche membunuh tuhan, Rudolf Bultmann, (1884-1976) penulis New Testament and Mythology, memastikan “Tuhan dalam Bible telah mati, kalau tidak sekarat”. Tuhan bagi mereka adalah tirani jiwa“the stodgy old tyrant of the soul”. Bukan Tuhan agama-agama, karena Ia dianggap sudah tidak ada. Inilah Tuhan yang dibunuh Nietszche itu.

ِMengapa orang Barat bangga dan bernafsu menjadi ateis? Michael Buckley menjawab dengan buku ilmiah yang ia beri judul At the Origins of Modern Atheism (1987) (Asal Usul Kekafiran Modern). Meskipun kafir tapi modern, meskipun modern tapi kafir, mungkin begitu plesetannya. Buckley membahasnya secara analitis, serius dan komprehensif. James E Force memuji buku ini sebagai “big, bold [and] highly readable book”.

Ateisme muncul di awal era modern, kata Michael karena teologi Kristen tunduk pada filsafat (Christian theology becomes subservient to philosophical reason). Biang keladinya adalah pemikir dan filosof yang ia juluki  new rationalistic defender of faith atau rationalistic philosophers, seperti Lessius, Mersenne, Descartes (1596-16500, Malebranche, Newton (1642-1727) dan Clarke. Mereka bicara tentang Tuhan tanpa bicara tentang Yesus.
Bukan hanya itu, kata James. Ateisme, wujud juga gara-gara merebaknya gerakan kritik terhadap Bible. Dari sejarah penulisannya, konsepnya tentang Tuhan dan akhirnya eksistensi Tuhan itu sendiri. Pengkritik Bible biasanya berlindung dibawah paham Deisme. Deist percaya pada Tuhan dengan akal, bukan lewat Bible. Tokoh-tokoh Deis Inggris adalah Spinoza, Bruno, Thomas Hobbes, Richard Simon dan lain-lain. Semuanya adalah tokoh-tokoh rasionalis.

David Berman dalam bukunya A History of Atheism in Britain: From Hobbes to Russel, setuju dengan James. Deisme adalah biang keladi ateisme. Ateisme modern lahir karena akarnya diremehkan, dicurigai dan terkadang dianggap sepi oleh para teolog yang merasa terancam.

Ateisme dipicu oleh kebencian terhadap dan kebebasan (liberalisme) dari agama. “Now hatred is by far the greatest pleasure”, kata Don Juan. Karena itu banyak cara menjadi kafir. Ada yang ingkar Tuhan saja (atheis), ada yang ingkar agama saja (infidel) dan ada yang menolak pengetahuan tentang Tuhan dan eksistensiNya sekaligus (agnostic). Ada yang meragukan wahyu Tuhan (skeptic), dan ada yang menolak Bible sebagai wahyu Tuhan (deist). Tapi ada juga yang menolak wahyu secara intelektual, yaitu disbeliever. Untuk yang minat ingkar Tuhan dengan akal dan hatinya, ia bisa memilih cara unbeliever. (lihat The New International Webster Comprehensive Dictionary. Hal. 1177). Banyak jalan menjadi kafir.

Dalam Islam kekufuran itu satu paket. Kufur pada rukun yang manapun tepat kafir. Sebab satu rukun berkaitan dengan rukun yang lain. Dalam al-Qur’an, ingkar Allah (al-Nahl : 106-107), ingkar pada ayat-ayat Allah (Israil :  98, Maryam : 73), atau menolak wahyu yang diturunkan (Muhammad : 9, al-Hajj : 72), adalah kafir. Malah beriman pada Allah tapi kufur pada Nabi (al-Nisa’ : 150-151), sama saja, tetap kafir.

Lucunya, Muslim juga tergiur shopping menu ateisme. Favoritnya adalah menu skeptic, disbeliever dan agnostic. Iman pada al-Qur’an di Lauh Mahfuz, tapi skeptik pada al-Qur’an yang diturunkan. Menyucikan maknanya tapi melecehkan huruf dan mushafnya. Ngaku beriman tapi ragu apakah bisa memahami Allah, mirip doktrin credo et intelegam.

Jika mahasiswanya berani bertanya ”Mana epistemologi Tuhan?” dosennya malah dengan arogan menulis tesis ”Menggugat Wahyu Tuhan”. Jika di Barat memprotes gereja melahirkan ateisme, disini malah ada yang memprovokasi, ”Agar maju tirulah Protestan!”. Maksudnya agar maju hujatlah tradisi agama (sunnah). Supaya bisa menapaki thesis Weber dari Protestan menjadi kapitalis.

Jadi persepsi James benar. Ini adalah fenomena intelektual modern (modern intellectual phenomenon), bukan keagamaan atau sosial. Problemnya ada pada cendekiawan. Intelektualitas diadu dengan religiusitas, filsafat dengan teologi dan agama dengan sains. Mestinya kompromistis, integratif alias tauhidi.

Tapi masalahnya, konsep tauhid tidak built in dalam teologi agama itu. Dalam buku Dialog between Theology and Philosophy, kalimat pertama yang ditulis adalah keraguan Tertulian ”Apa ya yang bisa dikongsi antara Athena dan Jerussalem, antara Akademi dan Gereja? Jawabnya tidak ada dan karena itu dialog antara teologi dan filsafat berbahaya.

Memang para teolog tidak siap dialog, kata Karen Armstrong dalam A History of God. Tapi filosof dan saintis terus menggugat dan memberangus agama. Motonya mudah ”Bicaralah ilmu apa saja asal jangan membawa-bawa Tuhan”. Kalau bicara Tuhan dalam sains anda salah kamar. Sorry sir, this is a science not theology!  Teori-teori Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, Friedrich Nietszche dan Sigmund Freud pun tidak memberi ruang untuk Tuhan. Arnold E. Loen lalu menulis buku Secularization, Science Without God.

Dunia ini bagi saintis adalah godless (tanpa tuhan). Sains yang bicara Tuhan ia tidak obyektif lagi. Here we must disagree, tulis Arnold tegas. Baru sekuler saja sudah menyingkirkan Tuhan, apalagi ateis. Tapi karena teolog terpojok, maka stigma “kamu ateis!” bisa berimplikasi “Kamu saintis!” Itulah modern atheism. ”Tuhan” di Barat ternyata tidak hanya dihabisi di gereja-gereja, tapi juga di kampus-kampus. Mungkin karena tidak ada ilmu dalam teologi akhirnya tidak ada tuhan dalam ilmu (godless). Jadi ateis di zaman modern adalah ateis epistemologi.

Orang menjadi ateis bukan hanya karena lemah iman, tapi juga salah ilmu. Ilmunya tidak menambah imannya. Epistemologinya tidak teologis dan teologinya tidak epistemologis. Dalam Islam, hati yang tak berzikir adalah mati, dan otak yang tidak bertafakkur akan kufur. Jika beriman pada Tuhan adalah fitrah semua insan, maka ketika Nietszche membunuh Tuhan -dalam hati dan pikirannya– sejatinya ia telah membunuh fitrahnya sendiri. Jadi Nietszche benar-benar telah melakukan bunuh diri spiritual, spiritual suicide.

KEBENARAN

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

“Semua adalah relatif” (All is relative) merupakan slogan generasi zaman postmodern di Barat, kata Michael Fackerell, seorang misionaris asal Amerika.  Ia bagaikan firman tanpa tuhan, dan sabda tanpa Nabi. Menyerupai undang-undang, tapi tanpa penguasa.
Tepatnya doktrin ideologis, tapi tanpa partai. Slogan itu memang enak didengar dan menjanjikan kenikmatan syahwat manusiawi. Baik buruk, salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa tidak dosa adalah nisbi belaka. Artinya tergantung siapa yang menilainya.

Slogan relativisme ini sebenarnya lahir dari kebencian. Kebencian Pemikir Barat modern terhadap agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak dan mengikat. Generasi postmodernis pun mewarisi kebencian ini.

Tapi semua orang tahu, kebencian tidak pernah bisa menghasilkan kearifan dan kebenaran. Bahkan persahabatan dan persaudaraan tidak selalu bisa kompromi dengan kebenaran. Aristotles rela memilih kebenaran daripada persahabatan.

Tidak puas dengan sekedar membenci, selanjutnya postmodernisme ingin menguasai agama-agama. “Untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain” itu mungkin logikanya. Untuk menguasai agama tidak perlu beragama.
Itulah sebabnya mereka membuat “teologi-teologi” baru yang mengikat. Kini teologi dihadapkan dengan psudo-teologi. Agama diadu dengan ideologi. Doktrin “teologi” pluralisme agama berada diatas agama-agama. “Global Theology” dan Transcendent Unity of Religions mulai dijual bebas.

Agar nama Tuhan juga menjadi global diciptakanlah nama “tuhan baru” yakni The One, Tuhan semua agama. Tapi bagaimana konsepnya, tidak jelas betul.
Bukan hanya itu “Semua adalah relatif” kemudian menjadi sebuah kerangka berpikir. “Berpikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar”, sebab kebenaran itu relatif. “Jangan terlalu lantang bicara tentang kebenaran, dan jangan menegur kesalahan”, karena kebenaran itu relatif. “Benar bagi anda belum tentu benar bagi kami”, semua adalah relatif. Kalau anda mengimani sesuatu jangan terlalu yakin keimanan anda benar, iman orang lain mungkin juga benar. Intinya semua diarahkan agar tidak merasa pasti tentang kebenaran.

Kata bijak Abraham Lincoln, “No one has the right to choose to do what is wrong”, tentu tidak sesuai dengan kerangka berpikir ini. Hadis Nabi Idha ra’a minkum munkaran… dan seterusnya bukan hanya menyalahi kerangka pikir ini, tapi justru menambah kriteria Islam sebagai agama jahat (evil religion) versi Charles Kimbal.

Jadi, merasa benar menjadi seperti “makruh” dan merasa benar sendiri tentu “haram”. Para artis dan selebriti negeri ini pun ikut menikmati slogan ini. Dengan penuh emosi dan marah ada yang berteriak “Semuanya benar dan harus dihormati”. Yang membuka aurat dan yang menutup sama baiknya. Confusing!
Entah sadar atau tidak mereka sedang men“dakwah”kan ayat-ayat setan Nietzsche tokoh postmodernisme dan nihilisme. “Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar orang lain juga berhak mengklaim itu salah” kata Nietzsche. Kalau anda merasa agama anda benar, orang lain berhak mengatakan agama anda salah.

Para cendekiawan Muslim pun punya profesi baru, yaitu membuka pintu surga Tuhan untuk pemeluk semua agama. “Surga Tuhan terlalu sempit kalau hanya untuk umat Islam”, kata mereka. Seakan sudah mengukur diameter surga Allah dan malah mendahului iradat Allah. Mereka bicara seperti atas nama Tuhan.
Slogan “Semua adalah relatif” kemudian diarahkan menjadi kesimpulan “Disana tidak ada kebenaran mutlak” (There )”. Kebenaran, moralitas, nilai dan lain-lain adalah relatif belaka.

Tapi karena asalnya adalah kebencian maka ia menjadi tidak logis. Kalau anda mengatakan “Tidak ada kebenaran mutlak” maka kata-kata anda itu sendiri sudah mutlak, padahal anda mengatakan semua relatif. Kalau anda mengatakan “Semua adalah relatif” atau “Semua kebenaran adalah relatif” maka pernyataan anda itu juga relatif alias tidak absolute

Kalau “Semua adalah relatif” maka yang mengatakan “Disana ada kebenaran mutlak” sama benarnya dengan yang menyatakan “Disana tidak ada kebenaran mutlak”. Tapi ini self-contradictory yang absurd. 
Menghapus kepercayaan pada kebenaran mutlak ternyata bukan mudah.
Di negeri liberal seperti Amerika Serikat sendiri 70% Kristen misionaris dan 27% ateis dan agnostik percaya pada kebenaran mutlak. Bahkan 38% warga Negara dewasanya percaya pada kebenaran mutlak. (Seperti dilaporkan William Lobdell di the Los Angeles Times dari hasil penelitian Barna Research Group). 
Karena itu doktrin postmo pun berubah: “Anda boleh percaya yang absolute asal tidak mencoba memaksakan kepercayaan anda pada orang lain”. Artinya tidak ada siapapun yang boleh menyalahkan siapa dan melarang siapa.

Tapi pernyataan ini sendiri telah melarang orang lain. Bagi kalangan Katholik di Barat ini adalah sikap pengecut, pemalas dan bahkan hipokrit. Bagi kita pernyataan ini menghapuskan amar ma’ruf nahi munkar.

Slogan “Semua adalah relatif” pun menemukan alasan baru “Yang absolute hanyalah Tuhan”. Aromanya seperti Islami, tapi sejatinya malah menjebak. Mulanya seperti berkaitan dengan masalah ontologi. Selain Tuhan adalah relatif (mumkin al-wujud). Tapi ternyata dibawa kepada persoalan epistemologi.

al-Qur’an yang diwahyukan dalam bahasa manusia (Arab), Hadis yang disabdakan Nabi, ijtihad ulama dan sebagainya adalah relatif belaka. Tidak absolute. Sebab semua dihasilkan dalam ruang dan waktu manusia yang menyejarah.

Padahal Allah berfirman al-haqq min rabbika (dari Tuhanmu) bukan ‘inda rabbika (pada Tuhanmu). “Dari Tuhanmu” berarti berasal dari sana dan sudah berada disini di masa kini dalam ruang dan waktu kehidupan manusia. Yang manusiawi dan menyejarah sebenarnya bisa mutlak.

Thomas F. Wall, penulis buku Thinking Critically About Philosophical Problem, menyatakan percaya pada Tuhan yang mutlak berarti percaya bahwa nilai-nilai moral manusia itu dari Tuhan. Demikian sebaliknya kalau kita tidak percaya Tuhan (hal. 60). 

Jika ada yang percaya bahwa nilai moral manusia itu adalah kesepakatan manusia tentu ia tidak percaya pada yang mutlak. “Semua adalah relatif” bisa berarti semua tidak ada yang tahu Tuhan yang mutlak dan kebenaran firmanNya yang mutlak. Jika begitu benarlah pepatah para hukama’ al-Nas a‘da’ ma jahilu (Manusia itu musuh bagi apa yang tidak diketahuinya).

Konsep Worldview

Worldview memegang peranan penting dalam menentukan pemikiran seseorang. Pemikiran ini yang kemudian mendasari tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dewasa ini banyak kajian modern yang mencoba memahami Islam hanya sebatas agama, bukan sebagai pandangan hidup. Walhasil, Islam yang tadinya mencakup seluruh aspek kehidupan, yang kaya akan konsep-konsep seperti konsep tentang Tuhan, kehidupan, manusia, direduksi menjadi aspek ritual ibadah saja. Tidak boleh ada agama dalam pendidikan, politik, seni,  dan lain lain. Agama cukup disimpan di masjid. Jelas, pemikiran seperti ini lahir karena cara pandang (worldview) yang digunakan bukan cara pandang Islam. Worldview memegang peranan penting dalam menentukan pemikiran seseorang. Pemikiran ini yang kemudian mendasari tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika di level pemikiran sudah tidak benar, maka ada kemungkinan tindakannya akan ikut terpengaruhi. Lantas apa yang dimaksud dengan worldview?

Mari mengambil contoh yang sederhana. Bagaimana memilih pakaian, sesungguhnya terkandung konsep worldview di dalamnya. Ada yang mendasarkan pada adat istiadat, standar kepantasan manusia atau menurut batasan syar’i. Ada konsep yang membuat seseorang melakukan standarisasi, itulah yang disebut worldview, meskipun ia sendiri tidak mengerti definisi worldview tersebut. Seperti ungkapan Dr. Syamsudin Arif, untuk melakukan sekulerisasi, orang tidak harus paham apa itu sekulerisme, tapi untuk menghadang sekulerisme orang harus paham sekulerisasi. Contoh lain tentang jodoh, ada worldview-nya. Kata Rasul, wanita dinikahi karena empat hal: harta, kecantikan, nasab, agama. Menurut redaksi hadistnya, pilihlah karena agamanya. Ini bukan kriteria tapi prioritas. Contoh lagi terkait dengan kebahagiaan. Apakah bahagia itu karena uang, atau spiritualitas saja? Kalau kita menghadapi masalah, tidak lulus ujian misalnya, lantas depresi dan merasa paling menderita sedunia, berarti ada yang salah dengan konsep kebahagian kita.

Konsep worldview ini juga akan sangat menentukan pandangan kita tentang makna hidup. Menurut Barat, manusia ada terlebih dahulu, baru kemudian mencari arti hidup. Existence precede essence, eksistensi mendahului esensi. Sedangkan dalam Islam, tujuan hidup kita sudah ditentukan, yakni untuk beribadah kepada Allah, jadi esensi mendahului eksistensi. Sejak berada di alam ruh, manusia sudah mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya, saat ditanya “alastu birobbikum” dan menjawab “qolu balaa syahidna”. Jadi mengapa orang memilih sesuatu, ditentukan oleh sekumpulan konsep yang ada di pikirannya baik disadari ditanamkan atau tidak sadar tertanam.

Menurut Ninian Smart, worldview  adalah kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang befungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral”. Sedangkan Thomas F Wall mengemukakan bahwa worldview adalah sistem kepercayaan asas yang integral tentang hakekat diri kita, realitas, dan tentang makna eksistensi (An integrated system of basic beliefs about the nature of yourself, reality, and the meaning of existence).1. Prof. Alparslan dalam bukunya The Framework for a history of Islamic philosophy menyatakan bahwa, “worldview is the foundation of all human conduct, including scientific and technological activities. Every human activity is ultimately traceable to its worldview, and as such it is reducible to that worldview2. Beliau mengartikan worldview sebagai asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, dan dalam pengertian itu maka aktifitas manusia dapat direduksi menjadi pandangan hidup.

Ada tiga poin penting dari definisi diatas, seperti yang dipaparkan oleh Ust.Hamid Fahmi Zarkasyi yaitu bahwa worldview adalah motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktifitas ilmiah. Dalam konteks sains, hakekat worldview dapat dikaitkan dengan konsep “perubahan paradigma” (Paradigm Shift) Thomas S Kuhn yang oleh Edwin Hung juga dianggap sebagai weltanschauung Revolution. Sebab paradigma menyediakan konsep nilai, standar-standar dan metodologi-metodologi, atau ringkasnya merupakan worldview dan framework konseptual yang diperlukan untuk kajian sains. Namun dari definisi diatas setidaknya kita dapat memahami bahwa worldview adalah identitas untuk membedakan antara  suatu peradaban dengan yang lain. Bahkan dari dua definisi terakhir menunjukkan bahwa worldviewmelibatkan aktifitas epistemologis manusia, sebab ia merupakan faktor penting dalam aktifititas penalaran manusia3.

Dalam islam, memang tidak ada kata khusus yang merujuk pada istilah worldview. Namun, hal ini tidak berarti bahwa tidak ada konsep worldview dalam islam. Para ulama terdahulu menggunakan istilah yang berbeda-beda seperti al-Mawdudi mengistilahkannya dengan Islami nazariat (Islamic Vision), Sayyid Qutb menggunakan istilah al-Tasawwur al-Islami (Islamic Vision), Mohammad Atif al-Zayn menyebutnya al-Mabda’ al-Islami (Islamic Principle), Prof. Syed Naquib al-Attas menamakannya Ru’yatul Islam lil wujud (Islamic Worldview). Meskipun istilah yang dipakai berbeda-beda pada umumnya para ulama tersebut sepakat bahwa Islam mempunyai cara pandangnya sendiri terhadap segala sesuatu.

Manurut al-Mawdudi, yang dimaksud Islami Nazariyat adalah pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya dalam kehidupannya secara menyeluruh.4

Shaykh Atif al-Zayn mengartikan mabda’ sebagai aqidah fikriyyah  (kepercayaan yang rasional) yang berdasarkan pada akal. Sebab setiap Muslim wajib beriman kepada hakekat wujud Allah, kenabian Muhammad saw, dan kepada al-Qur’an dengan akal. Iman kepada hal-hal yang ghaib……..itu  berdasarkan cara penginderaan yang diteguhkan oleh akal sehingga tidak dapat dipungkiri lagi. Iman kepada Islam sebagai Din yang diturunkan melalu Nabi Muhammad saw untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya dan lainnya.Sayyid Qutb mengartikan al-tasawwur al-Islami, sebagai akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat dibalik itu.Al-Attas mengartikan worldview Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total maka worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud (ru’yaat al-Islam lil-wujud)7

Pandangan-pandangan tersebut telah cukup merefleksikan apa yang disebut dengan pandangan hidup islam. Hanya para ulama berbeda fokus dalam pelaksanaannya. Ada yang lebih menekankan pada politik, ideologi, atau metafisik dan epistimologis.

Dari proses lahirnya pandangan hidup Islam dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang sarat dengan ajaran yang mendorong timbuhnya ilmu pengetahuan. Ajaran tentang Ilmu pengetahuan dalam Islam yang cikal bakalnya adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu itu kemudian ditafsirkan kedalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kokoh. Suatu peradaban yang lahir dan tumbuh atas dukungan tradisi intelektual yang berbasis pada wahyu.

Elemen-elemen worldview

Sebagai sebuah sistem yang telah mempunyai definisi yang jelas, worldview atau pandangan hidup memiliki karakteristik tersendiri yang ditentukan oleh beberapa elemen yang menjadi asas atau tiang penyangganya. Menurut Thomas F. Wall suatu pandangan hidup ditentukan oleh pemahaman individu terhadap enam bidang pembahasan yaitu: Tuhan, Ilmu, realitas, diri, etika dan masyarakat. Elemen tersebut bersifat integral dan berkaitan satu sama lain. Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa,

It (belief in God’s existence) is very important, perhaps the most important element in any worldview. First if we do believe that God exists, the we are more likely to believe that there is a plan and a meaning of life, ……if we are consistent, we will also believe that the source of moral value is not just human convention but divine will and that God is the highest value. Moreover, we will have to believe that knowledge can be of more than what is observable and that there is a higher reality – the supernatural world. …….if on the other hand, we believe that there is no God and that there is just this one world, what would we then be likely to believe about the meaning of life, the nature of ourselves, and after life, the origin of moral standards, freedom and responsibility and so on.” 8

Kepercayaan terhadap Tuhan sangat penting, mungkin elemen yang terpenting dalam pandangan hidup manapun. Pertama jika kita percaya bahwa Tuhan itu wujud, maka kita  tentu percaya bahwa disana terdapat tujuan dan makna hidup….jika kita konsisten, kita juga akan percaya bahwa sumber nilai moral bukanlah hanya sekedar kesepakatan manusia tapi kehendak Tuhan, dan bahwa Tuhan adalah nilai Tertinggi. Selanjutnya kita akan percaya bahwa (makna) ilmu pengetahuan itu lebih dari apa yang dapat diamati dan bahwa disana terdapat realitas yang lebih tinggi  –  dunia supranatural. …..jika sebaliknya, kita percaya bahwa disana tidak ada Tuhan dan bahwa yang ada hanya  dunia ini, maka  demikian pulalah kira-kira yang akan kita percayai tentang makna hidup, hakekat diri kita, kehidupan sesudah mati, asal usul standar moralitas, kebebasan, tanggung jawab dan lain-lain.

Jadi dapat disimpulkan bahwa elemen pandangan hidup saling terkait dan konsep Tuhan memegang peranan penting. Artinya kepercayaan individu terhadap adanya atau tidak adanya Tuhan akan berkaitan secara konseptual dengan ilmu, realitas, diri, etika dan masyarakat.

Menurut Porf. Al-Attas elemen asas bagi worldview Islam sangat banyak dan yang ia merupakan jalinan konsep-konsep yang tak terpisahkan. Diantara yang paling utama adalah Konsep tentang hakekat Tuhan, Konsep tentang Wahyu (al-Qur’an), Konsep tentang penciptaan, Konsep tentang hakekat kejiwaan manusia, Konsep tentang ilmu, Konsep tentang agama, Konsep tentang kebebasan, Konsep tentang nilai dan kebajikan, Konsep tentang kebahagiaan dll.9 Disini Prof. al-Attas menekankan pada pentingnya konsep sebagai elemen pandangan hidup Islam. Konsep-konsep ini semua saling berkaitan antara satu sama lain membentuk sebuah struktur konsep yang sistemik dan menyeluruh. Selanjutnya, beliau menjelaskan tentang karakteristik pandangan hidup Islam sebagai berikut.

  1. Dalam pandangan hidup Islam, realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan kepada kajian metafisika terhadap dunia yang nampak (visible world) dan yang tidak nampak (invisible world).
  2. Pandangan hidup Islam bercirikan pada metode berfikir yang tawhidi (integral). Artinya dalam memahami realitas dan kebenaran pandangan hidup Islam menggunakan metode yang tidak dikotomis, yang membedakan antara obyektif dan subyektif, historis-normatif, tekstual-kontektual dsb.
  3. Pandagan hidup Islam bersumberkan kepada wahyu yang diperkuat oleh agama (din) dan didukung oleh prinsip akal dan intuisi. Karena itu pandangan hidup Islam telah sempurna dan dewasa sejak lahir
  4. Elemen-elemen pandangan hidup Islam menentukan bentuk perubahan (change), perkembangan (development) dan kemajuan (progess) dalam Islam. Elemen-elemen dasar ini berperan sebagai tiang pemersatu yang meletakkan sistim makna, standar tata kehidupan dan nilai dalam suatu kesatuan sistim yang koheren dalam bentuk worldview
  5. Pandangan hidup Islam memiliki elemen utama yang paling mendasar yaitu konsep tentang Tuhan yang membedakannya dari agama lain. Adapun kesamaan-kesamaan beberapa elemen tentang konsep Tuhan antara Islam dan agama lain tidak kemudian berarti bahwa terdapat Satu Tuhan Universal seperti yang diserukan oleh kelompok yang mengusung ide Transendent Unity of Religion, sebab sistem konseptualnya berbeda.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Islam adalah agama dan pandangan hidup yang secara konseptual dapat dibedakan dari pandangan hidup lain. Islam adalah Din dan peradaban (tamaddun) yang tumbuh dari pandangan hidup Islam (wordview) yang diproyeksikan oleh Al-Qur’an dan hadist. Untuk memahami lebih dalam mengenai The Worldview of Islam dapat dilakukan dengan mengkaji konsep-konsep kunci dalam pandangan hidup Islam sehingga menjadi framework  pemikiran setiap muslim. Dengan demikian kita bisa mengetahui apakah suatu pemikiran sesuai dengan pandangan hidup Islam atau tidak. Layak diadopsi oleh umat Islam atau sebaliknya membahayakan keimanan. (Linoharsih Khaerunnisa/PIMPIN)

Referensi:

  1. Thomas F Wall, Thinking Critically About Philosophical Problem, a Modern Introduction. Wadsworth, Thomson Learning, Australia, 2001: 532. dalam Hamid Fahmy Zarkasyi, Pandangan Hidup Islam. 2013. Artikel. Sumber http://hamidfahmy.com/pandangan-hidup-islam-islamic-worldview
  2. Alparslan Acikgence, “The Framework for A history of Islamic Philosophy”, Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civilization, (ISTAC, 1996, vol.1. Nos. 1&2, 6.)
  3. Hamid Fahmi Zarkasyi, Islam sebagai Pandangan Hidup. Makalah, Daurah Nasional Pembinaan Ilmuwan Islam “Dari Pendidikan Menuju Kebangkitan, Univesitas Muhammadiyah Yogyakarta, Yogyakarta 3-4 Juli, 2013
  4. Al-Mawdudi, The Process of Islamic Revolution, (Lahore, 1967) 14, 41. Dalam Hamid Fahmi Zarkasy, Islam sebagai… [3]
  5. Shaykh Atif al-Zayn, al-Islam wa Idulujiyyat al-Insan, Dar al- Kitab al-Lubnani, Beirut, 1989, hal. 13. Dalam Hamid Fahmi Zarkasy, Islam sebagai… [3]
  6. Sayyid Qutb, Muqawwamat al-Tasawwur al-Islami, Dar al-Shuruq, tt. Hal. 41. Dalam Hamid Fahmi Zarkasy, Islam sebagai… [3]
  7. M.N, al-Attas, Prolegomena to The Metaphysics of Islam, An Exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur, ISTAC, 1995:2
  8. Thomas F Wall, Thinking Critically… [1]
  9. M.N, al-Attas, “The Worldview of Islam, An Outline, Opening Adress”, dalam Sharifah Shifa al-Attas ed. Islam and the Challenge of Modernity, Proceeding of the inaugural Symposium on Islam and the Challenge of Modernity: Historical and Contemporary Context, Kuala Lumpur Agustus, 1-5, 1994, ISTAC, Kuala Lumpur, 1996, hal. 29. Dalam Hamid Fahmi Zarkasy, Islam sebagai… [3]

Disalin-tempel dari; http://pimpin.web.id/2015/02/28/konsep-worldview/#.VziJPDWLTIV